" Isi Surat Reza"
Tiga tahun kita melewati masa putih abu dengan indah, senang, sedih, galau, bahagia, berjuang bersama itu masih teringat dalam benakku, bersama teman teman ku dan guru disekolahku, tp ingatanku selalu tertuju padanya, dia sosok pria yang ku kagumi sejak kelas 12 SMA, sejak kita satu kelas, sebut saja reza. tidak banyak bicara diantara kita, hanya tebar sapa dan senyum saja setiap kali kita berhadapan. tiba saat nya hari ini perpisahan di sekolahku.
Reza : “ nayla... “ sapa nya sambil berlari kecil menuju kearah ku.
Nayla : “ iya.. ada apa za?”
Reza : “ ini untukmu, baca ya... aku gak tau kapan bisa ketemu kamu lagi “
Nayla : “ apa ini? “
Reza : “ kamu baca aja, maafin aku ya.. “ ia pun pergi begitu saja meninggalkanku yang masih menggenggam erat surat dari nya dengan rasa penasaran.
Reza : “ nayla... “ sapa nya sambil berlari kecil menuju kearah ku.
Nayla : “ iya.. ada apa za?”
Reza : “ ini untukmu, baca ya... aku gak tau kapan bisa ketemu kamu lagi “
Nayla : “ apa ini? “
Reza : “ kamu baca aja, maafin aku ya.. “ ia pun pergi begitu saja meninggalkanku yang masih menggenggam erat surat dari nya dengan rasa penasaran.
Setiba nya dikamar, aku merebahkan badan ku di tempat tidur, melelahkan sekali hari ini, aku pun teringat sesuatu yang diberikan reza kepada ku siang tadi, aku pun langsung mengambilnya di dalam tas cokelatku, sebuah surat yang dibungkus amplop berwarna pink, romantis sekali pikirku, aku buka secara perlahan, dan akupun mulai membacanya.
“Teruntuk nayla aura luthfiana... ada kalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi jiwa kita, sehingga saat seseorang itu pun hilang begitu saja, bayangnya masih ada, setangkup harapan agar dia kembali, walau ada kata kata dan sikapnya yang menyakitkan hati, akan ada beribu kata maaf untuknya, masih ada beribu penantian walau tak pasti, masih ada segumpal keyakinan bahwa kamulah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari utuk yang lain, sementara kamu... aku tidak pernah tahu apakah kamu juga memikirkan ku. haruskah aku mengorbankan diri demi hal yang sia-sia? tidak... masih ada sejuta asa, sejuta makna, dan masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya di lubuk jiwa dengan bermakna dan bermanfaat bagi sesama. biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya, disaat yang tepat, hanya dari Allah disaat dihalalkan Nya dua insan manusia untuk bersatu dalam ikatan pernikahan yang barokah.
“Teruntuk nayla aura luthfiana... ada kalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi jiwa kita, sehingga saat seseorang itu pun hilang begitu saja, bayangnya masih ada, setangkup harapan agar dia kembali, walau ada kata kata dan sikapnya yang menyakitkan hati, akan ada beribu kata maaf untuknya, masih ada beribu penantian walau tak pasti, masih ada segumpal keyakinan bahwa kamulah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari utuk yang lain, sementara kamu... aku tidak pernah tahu apakah kamu juga memikirkan ku. haruskah aku mengorbankan diri demi hal yang sia-sia? tidak... masih ada sejuta asa, sejuta makna, dan masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya di lubuk jiwa dengan bermakna dan bermanfaat bagi sesama. biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya, disaat yang tepat, hanya dari Allah disaat dihalalkan Nya dua insan manusia untuk bersatu dalam ikatan pernikahan yang barokah.
Do'a kan ku agar segera bisa menghalakan mu setelah lulus sarjana kedokteran ku di salah satu perguruan tinggi negeri Di Jawa Barat, maukah kamu menunggu ku dalam kesabaran dan ketaatan untuk terus memperbaiki diri kita, nantikan ku selalu, aku akan datang menjemputmu bersama seluruh keluarga ku. dari reza permana “
Aku melipat kembali surat yang ku baca tadi, ku genggam erat dalam pelukanku. Yaa Allah... ternyata dia pun mengagumiku, aku akan menunggu mu reza, bisikku dalam hati.
karya : Lu'lu Luthfiah, Am. Keb.
karya : Lu'lu Luthfiah, Am. Keb.
0 komentar:
Posting Komentar